BAGAIMANA CARA MENJUAL SISIR KE ORANG BOTAK…?

*Sebuah perusahaan membuat tes terhadap tiga calon staf penjual barunya.*

Tesnya unik, yaitu: Menjual sisir di komplek Biara Shaolin.

Tentu saja, ini cukup unik karena para *biksu* di sana semuanya gundul dan *tak butuh sisir*.

Kesulitan ini juga yang membuat calon pertama hanya mampu menjual *satu sisir*. Itupun karena belas kasihan seorang biksu yang iba melihatnya.

Tapi, tidak dengan calon kedua. Ia berhasil menjual *10 sisir*, ia tidak menawarkan kepada para biksu, tetapi kepada para turis yang ada di komplek itu, mengingat angin di sana memang besar sehingga sering membuat rambut jadi awut-awutan.

Lalu bagaimana dengan calon ketiga?

Continue reading “BAGAIMANA CARA MENJUAL SISIR KE ORANG BOTAK…?”

Just do it

Ini kisah nyata yang terjadi pada tahun 1892 di Stanford University.

Pesan moralnya masih relevan saat ini.

Ada seorang mahasiswa muda berusia 18 tahun yang berjuang untuk membayar biaya kuliahnya.

Dia seorang yatim piatu, dan tidak tahu ke mana harus mendapatkan uang.

Akhirnya dia dapat ide yang cemerlang.

Continue reading “Just do it”

Kisah Ban Mobil Kempes


Pada suatu hari seorang pria melihat seorang wanita lanjut usia sedang berdiri kebingungan di pinggir jalan.

Meskipun hari agak gelap, pria itu dapat melihat, bahwa sang nyonya sedang membutuhkan pertolongan.  Maka pria itu menghentikan mobilnya di depan mobil Benz wanita itu dan keluar menghampirinya.  Mobil Pontiac-nya masih menyala, ketika pria itu mendekati sang nyonya.

Meskipun pria itu tersenyum, wanita itu masih ketakutan.
Continue reading “Kisah Ban Mobil Kempes”

Pengusaha dan Pengemis

*Zig Ziglar* (USA) pernah bercerita tentang seorang *Pengusaha* yang sedang berjalan tergesa-gesa menuju Stasiun. Di dekat pintu masuk, ia melihat seorang yang berpakaian kumuh duduk bersila seperti *pengemis*.

Dengan cepat, Pengusaha itu menaruh uang 1 dollar dan segera masuk ke Stasiun, tapi ia kemudian berbalik dan mengambil salah satu dari seikat pensil yang ada di dekat orang itu, sambil berkata, “Maafkan saya Pak, saya tidak melihat pensil yang anda jual. Anda adalah seorang *pengusaha* seperti saya dan kamu bukanlah _pengemis_, saya mohon maaf karena *salah*.”

Orang berpakaian kumuh itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya.
Continue reading “Pengusaha dan Pengemis”